Rabu, 19 Desember 2012

Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka

Pancasila sebagai ideologi terbuka karena nilai-nilai yang serta cita-cita yang terkandung di dalamnya tidak dipaksakan dari luar, melainkan digali serta diambil dari adat dan budaya bangsa Indonesia. Pancasila merupakan hasil kesepakaan dari suatu rumusan adalah milik seluruh rakyat.
Pancasila sebagai ideologi terbuka berbeda dengan ideologi tertutup yang tidak mempersoalkan hati nurani dan hak asasi manusia. Pancasila tidak seperti ideologi tertutup yang merupakan cita-cita sekelompok orang mengharuskan masyarakaatnya taat kepada elite yang menggambarnya.
Pancasila sebagai ideologi terbuka memiliki 3 dimensi, menurut Dr. Alfian dimensi tersebut yaitu:
1.      Dimensi Realita
Ideologi pancasila itu memiliki nilai-nilai yang secara riil berakar dan hidup dalam masyarakat dan bangsanya, terutama karena nilai-nilai dasar tersebut bersumber dari budaya dan pengalaman sejarahnya yang dapat diaplikasikan.
2.      Dimensi Idealisme
Ideologi pancasila itu memiliki nilai-nilai dasar idealisme, bukan hanya suatu harapan semu, tetapi berupa harapan nyata tentang masa depan yang lebih baik yang diwujudkan berdasarkan pengalaman dalam praktek kehidupan bersama dari berbagai dimensi.
3.      Dimensi Fleksibilitas (Kelenturan)
Ideologi pancasila bersifat luwes, yang memungkinkan serta merangsang pemikiran-pemikiran baru yang inovatif dalam isinya tanpa merubah sila-sila yang terkandung di dalamnya.
Pancasila sebagai ideologi terbuka juga senantiasa mampu berinteraksi secara dinamis. Nilai-nilai pancasila yang tidak boleh berubah, namun pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan nyata yang kita hadapi dari waktu ke waktu.
Ideologi pancasila adalah ideologi terbuka yang dapat dikatakan memenuhi ketiga dimensi di atas. Dengan demikian pancasila adalah ideologi yang kuat dan tangguh. Itulah sebabnya ideologi pancasila adalah ideologi yang paling tepat bagi bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai ideologi terbuka mampu dijadikan landasan dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Namun dalam pelaksanaannya perlu adanya dukungan serta partisipasi dari masyarakatnya.
Pancasila sebagai ideologi terbuka memiliki ciri-ciri:
1.      Pancasila berakar dari kesadaran masyarakat Indonesia. Nilai pancasila yang diambil bukan dari bangsa lain, melainkan dari budaya bangsa Indonesia sendiri.
2.      Isi pancasila tidak langsung pada tujuan yang hendak dicapai melainkan hanya perwujudan dari nilai dasar.
3.      Pancasila menghargai kebebasan bukan memaksakan kebebasan
4.      Pancasila bukan ideologi yang mengurus semua kehidupan masyarakat
5.      Pancasila menghargai pluralitas yang mengayomi semua agama yang ada di Indonesia
6.      Ideologi pancasila bukan berasal dari sekelompok orang melainkan berasal dari hasil musyawarah dan konsensus dari masyarakat atau bangsanya sendiri
Ideologi pancasila bersifat fleksibel yang mengandung nilai-nilai:
1.      Nilai Dasar
Nilai dasar ini merupakan nilai-nilai yang mendasar dan relatif tetap atau tidak berubah yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945. Dalam nilai dasar ini mengandung cita-cita, tujuan, dan nilai-nilai yang baik dan benar serta mampu dipertanggungjawabkan. Nilai dasar tersebut adalah sebagai berikut.
a.      Ketuhanan Yang Maha Esa atau nilai ketuhanan
b.      Kemanusiaan yang adil dan beradab atau nilai kemanusiaan
c.      Persatuan Indonesia atau nilai persatuan
d.     Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan atau nilai kerakyatan
e.      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia atau nilai keadilan
2.      Nilai Instrumental
Nilai instrumental merupakan penjabaran lebih lanjut secara kreatif dan dinamis dari nilai-nilai dasar dalam bentuk UUD 1945 dan Peraturan perundang-undangan lainnya. Penjabaran ini dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman serta aspirasi masyarakat. Nilai instrumental ini senantiasa dapat dilakukan perubahan namun tanpa merubah nilai dasar yang terkandung di dalamnya.
3.      Nilai Praksis
Nilai Praksis merupakan nilai-nilai yang sesungguhnya dilaksanakan dalam kehidupan nyata baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai praksis ini tampak dan dapat dirasakan bersama seperti menghormati, kerjasama yang diwujudkan melalui sakap, perbuatan dan tingkah laku sehari-hari. Nilai praksis ini merupakan realisasi dari nilai dasar pancasila. Nilai praksisi ini senantiasa berkembang dan selalu dapat dilakukan perubahan dan perbaikan sesuai perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi serta aspirasi masyarakat.
Keterbukaan ideologi pancasila tidak bersifat mutlak. Artinya keterbukaan ideologi pancasila dilaksanakan dengan memperhatikan batasan-batasan yang ada dan batasan tersebut tidak boleh dilanggar. Batasan-batasan tersebut antara lain:
1.      Tidak merusak stabilitas nasional yang dinamis
2.      Tidak memasukkan paham atau ideologi yang bertentangan dengan pancasila seperti ideologi liberal, kapitalis dan paham atheisme
3.      Tidak memunculkan pandangan ekstrim yang menggelisahkan masyarakat
4.      Tidak memaksakan kehendak pribadi atau golongan kepada masyarakat kecuali disepakati melalui musyawarah atau konsesnsus dalam penciptaan norma baru
Keterbukaan dalam ideologi pancasila juga menyangkut keterbukaan menerima budaya asing yang kemudian disaring dan diperbaiki dengan pancasila. Namun pancasila menolak budaya asing yang bertentangan dengan pancasila.

0 komentar:

Poskan Komentar